KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak, yang
perasaannya campur-aduk karena pertama kali merasakan diri jadi ayah—merasa
harus bertanggung jawab, merasa mencintai, heran, bahagia, bangga punya
keturunan dan sebagainya—menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki. Lagunya
cukup terkenal dan masuk album Opini (1982).
Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering main
tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad Ma’mun punya karakter rekaan yang sering
diceritakannya pada Galang. Namanya “Gringgrong”—seorang jagoan “kayak Tarzan”
yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh. Tiap kali
Ma’mun datang menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di Condet hanya ada
dua kamar, “Kalau saya nginep, Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.
Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang badannya
bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak hura-hura. Kalau minta uang paling
buat bayar taksi pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya uang,” kata
Iwan. Galang juga besar tekadnya. Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir
mobil dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa mengendarai mobil.
Solusinya? Galang mengendarai mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!
Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan angkat tangan.
Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana nih, Galang nggak mau sekolah lagi?”
“Terus maunya apa?”
“Embuh, main musik atau buka bengkel.”
Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan Jaya di
Bintaro, yang terletak dekat rumah dan termasuk salah satu sekolah mahal di
Jakarta. Iwan sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di Bintaro. Hingga
Leuwinanggung ia sudah pindah rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun dan sedang
memproduksi rekamannya yang pertama bersama kelompok Bunga. Iwan tak bisa
berbuat banyak dan membiarkan Galang putus sekolah.
Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah. Dalam pelarian,
menurut Iwan, Galang melihat poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia merasa
diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak bisa lari dan kembali ke rumah.
Suatu saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu pakai ya?”
“Mau apa tahu Pa?” kata Galang, ditirukan Iwan.
Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang yang
memakai? Iwan merasa Galang meniru papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi
Aras mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan ganja atau merokok.
Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya pusing serta
teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya udah,” kata Iwan.
Kebetulan Galang punya pacar, seorang cewek gaul bernama
Inne Febrianti, yang juga keberatan Galang memakai obat-obatan. Inne mendorong
Galang tak memakai obat-obatan.
“Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya.
Kontrol diri sangat kuat,” kata Iwan.
Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00 malam Galang
pulang ke rumah, setelah latihan main band. Dia makan lalu pamit pada papanya
mau tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih mendengar Galang
telepon-teleponan.
Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang
tinggal di sana, mau mengambil sisir di kamar Galang. Kelly memanggil Galang
tapi tak bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-goyangkan badannya.
Lemas. Kelly kaget. Dia mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan Galang
badannya dingin. “Saya turun ke bawah, panggil Iwan,” kata Yos.
Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu saudara-saudaranya
datang. Mereka menghubungi semua kerabat dan teman. Leo Listianto, adik Iwan,
menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur, antara percaya, tidak
percaya,” kata Ma’mun.
Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon Dyah Retno Wulan,
adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga memberitahu Galang meninggal. “Saya
bengong,” kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.
Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana
membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang, ini ada berita duka … Galang
meninggal.” Mereka agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya pasangan
ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang mondar-mandir. Mereka mencoba telepon
ke Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri Buchaeri, Endi Aras, dan
beberapa rekan lain sebelum naik mobil ke Bintaro.
Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar. Iwang
Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di Bintaro sekitar pukul 5:30. “Aku ikut
memandikan (jasad Galang),” kata Endi.
Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar
berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum ... Lang, kamu sudah
selesai, Papa yang belum ..…” Kalimat itu diucapkan Iwan berkali-kali.
Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-anak Mas,”
kata Iwan, seakan-akan hendak mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya
dengan baik.
“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh, anak saya
sudah meninggal mendahului saya,’” kata Fidiana. Iwan tak banyak bicara,
menunduk, menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada tamu-tamu. “Kepada
kita dia nggak ngomong sama sekali,” kata Fidiana.
Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman Tanah Kusir
dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana
aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur
dari Nahdlatul Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden Indonesia. Iwan
menganggap Gus Dur “guru mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus Dur
mengerti hukum Islam maupun hukum pemerintahan.
Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan Islam
diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum
atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa memakamkan orang di rumah
sendiri karena keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh … kalau Bogor
boleh.”
Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada Leuwinanggung.
Keluarga pun memutuskan Galang dimakamkan di Leuwinanggung.
Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di
Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia dihubungi Lies Suudiyah,
ibunda Iwan. “Bu Lies datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal. Tolong di
sini kuburannya,” kata Harun.
Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000
jamaah salat Jumat di masjid itu ikut menyembahyangkan Galang. Banyak seniman,
tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S.
Rendra, Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie Suryoprayogo, juga tampak di
sana. Spekulasi wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip bahwa dada Galang
kelihatan biru. Galang digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana karena
tubuh Galang kurus ceking.
Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab kematian Galang
karena tak ada otopsi terhadap jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam.
Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi overdosis kepada orangtua yang
berduka. Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab kematian Galang
penyakit asma. Fidiana mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos
mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan mengatakan pada saya, fisik Galang
“agak lemah” dan “Galang lemah di pencernaan.”
Namun Iwan dan Ma’mun menyangkal spekulasi overdosis. Galang
memang mencoba obat-obatan tapi tak serius. Iwan mengatakan dua bulan sebelum
meninggal, Galang “sudah bersih.” Iwan percaya anaknya punya kontrol diri.
Menurut teman-temannya, Yos menilai petualangan Galang
merupakan protes terhadap Iwan. Galang butuh perhatian papanya tapi Iwan
terlalu sibuk. Yos di mata mereka lebih tabah menghadapi kematian Galang. Iwan
lebih terpukul dan menyesal. “Setelah Galang meninggal, dia sudah nggak
nggelek-nggelek. Salatnya sudah rajin,” kata Endi Aras.
September lalu di keheningan Leuwinanggung, saya tanyakan
pada Iwan bagaimana perasaannya sekarang, lima tahun setelah kematian Galang.
Dia menggeser posisi duduknya dan mengatakan, “Sampai
sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih
kecil.”
Iwan mengatakan kalau bercermin pada masa-masa ketika Galang
masih ada, dia melihat kekurangan-kekurangannya sebagai suami maupun ayah.
“(Kematian Galang) membuat saya menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau
saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain
ceritanya.”
“Tapi ini semua nggak bisa dibalik.”
Diambil hikmahnya, Iwan bercerita bahwa kematian Galang jadi
“api” buat dirinya dalam bermusik.
“Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah
waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya nggak
berani … rasanya di sini senep (sesak) … hoooaah … dari sini senep … apalagi
kalau kenangan-kenangan itu datang,” kata Iwan. Dia tiba-tiba berteriak,
"Hoooooooaaaaah ...."
Saya mengalihkan pandangan mata saya dari mata Iwan.
Dia menelungkupkan kedua tangannya di dada. Kami diam sejenak. Saya minta maaf
karena mengingatkannya pada kematian Galang. Iwan bilang tak apa-apa.
“Kadang-kadang kalau lagi sedih … senep. Tapi kalau lagi senang ya lupa lagi.”








